Rabu, 10 Mei 2017

Gender prespektif hadist

Materi              : Gender prespektif hadist

Pemateri          : Nurul & K.H.Marzuki Wahid

Hadist :
                                                                                       مَاأُضِيْفَ إلى النبي ص م قَولاً أو فِعْلاً أوْتَقْرِيْرًا اَوْ صِفَةً 
"Sesuatu yang di sandarkan oleh nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifat beliau”
Kedudukan Wanita menurut Hadis Rasulullah

      Disebutkan dalam salah satu riwayat bahwa suatu ketika sayyidina Umar bin Khattab ra. Suatu ketika tersenyum dan tidak lama kemudian ia menangis. Tersenyum dan menangis, dua kata yang mewakili keadaannya saat itu. Para sahabat yang lain heran dan menganggap ada kejanggalan yang terjadi pada diri sang pemimpin Islam tersebut. Maka salah seorang di antara mereka bertanya kepada sayyidina Umar mengenai sesuatu yang menyebabkan ia bersikap seperti itu, lalu amirul mukminin menjawab pertanyaan sahabatnya dengan menjelaskan bahwa ia tertawa karenaa mengingat sikap dan perbuatannya ketika ia masih berada dalam kekafiran. Di mana suatu ketika ia bepergian dengan membawa patung yang terbuat dari roti yang kemudian disembah dalam perjalanannya. Akan tetapi dalam perjalanannya tersebut sang amir merasa lapar dan tidak ada yang bisa dimakan, akhirnya ia mencabut hidung patung tuhannya yang terbuat dari roti kemudian ia makan hidung tersebut.
Sedangkan penyebab ia menangis karena mengingat sikap dan perbuatannya ketika istrinya melahirkan dan ternyata anak yang lahir adalah seorang wanita. Maka Umar mengambil anak tersebut lalu ia kuburkan hidup-hidup disebabkan adanya anggapan bahwa wanita adalah sebuah aib atau mungkin menjadi pintu masuk kehinaan dalam lingkungan keluarga terhormat.
Demikianlah salah satu dari sekian banyak gambaran tentang keadaan wanita pra-Islam. Terlepas dari benar dan tidaknya riwayat di atas, hal itu menunjukkan penghinaan dan pelecehan terhadap eksistensi wanita[1], bahkan disebutkan bahwa sayyidina Umar bin Khattab ra pernah mengatakan : والله ان كنا في الجاهلية ما نعد النساء أمرا حتى أنزل الله فيهن ما أنزل وقسم لهن ما قسم “Demi Allah, dulu ketika masa Jahiliah. Kami tidak pernah menganggap wanita sebagaimana mestinya hingga Allah menurunkan ayat yang berbicara tentang mereka dan bersumpah untuk mereka”.[2]
Bukan hanya itu, pelecehan terhadap wanita masuk pada persoalan pembagian harta warisan. Di mana mereka –masyarakat jahiliyah- tidak memberikan warisan kecuali kepada anak laki-laki dewasa mereka. Sedangkan wanita dan anak kecil dianggap tidak pantas menjadi pewaris. Bahkan di saat mereka bertawaf di sekeliling Ka’bah, sehelai kain pun tidak melekat ditubuhnya. Betapa rendah kedudukan wanita pra-Islam.
Masih banyak contoh lain yang menunjukkan rendahnya kedudukan wanita. Mereka ibarat wabah penyakit ditengah pemukiman bersih dan bebas pencemaran. Ketiadaannya dianggap kebahagiaan sedangkan kehadirannya bagaikan bala bencana yang siap memporak-porandakan ketenangan mereka (kaum lelaki).
Akan tetapi Islam sebagai agama yang membawa misi kerahmatan datang dengan mengumumkan kemuliaan wanita, mengukuhkan eksistensi mereka sebagai makhluk seutuhnya yang memiliki sifat taklif, tanggung jawab, balasan dan hak masuk surge. Islam memandang wanita sebagai manusia yang mulia, yang memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Karena keduanya adalah dua cabang dari satu pohon, dua bersaudara yang ayahnya adalah Adam dan ibunya adalah Hawa.[3]
Wanita dalam Islam adalah makhluk yang memiliki kedudukan yang tinggi, di mana sebelumnya mereka tidak memiliki nilai dan penghargaan. Banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut, termasuk hadis dan sunnah Nabi, maka di sana ditemukan beberapa sabda Nabi yang mengangkat derajat wanita.





0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com